http://devilzc0de.org
Sabtu, 26 November 2016
Jumat, 25 November 2016
Ingin dekat dengan allah swt
Aku ingin Selalu dekat dengan ALLAH Swt
Bermacam-macam cara ditempuh oleh umat manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Ada yang melalui jalan merenung, bertafakkur atau berDzikir. Ada pula seseorang menjadidekat dengan Allah Swt. akibat musibah yang menimpanya. Demikianlah Allah Swt. membuka cara atau jalan bagi manusia yang ingin dekat dengan-Nya. Sebagai orang yang beriman, tentu saja kita harus mampu menempuh cara apa pun agar dapat dekat dengan Allah Swt. Tanamkanlah dalam hatimu
"Aku Selalu Dekat dengan ALLAH Swt."Kedekatan seorang hamba dengan khaliqnya tentu saja akan mengantarkannya mendapatkan berbagai fasilitas hidup, yaitu kesenangan dan kenikmatan yangtiada tara. Perhatikanlah seorang anak yang dekat dengan orang tuanya atau seorang pegawai dengan bosnya, hal itu akan memberikan peluang atas segala kemudahan yang akan dicapainya.Jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah melalui Dzikir. Dzikir artinya mengingat Allah Swt. dengan menyebut dan memuji nama-Nya. Ada syarat yang sangat fundamental yang diperlukan untukmendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui Dzikir, yaitu kemampuan dalam menguasai nafsu. Selanjutnya menyebut nama Allah Swt.
berulang-ulang di dalam hati dengan menghadirkan rasa rendah hati (tawaddhu’) yang disertai rasa takut karena merasakan keagunganNya. Dzikir dapat dilakukan kapan dan di mana saja. BerDzikir dilakukan dengan penuh kekhusyuan dan harus benar-benar menghujam di dalam kalbu.Selain melalui Dzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. dapat juga dilakukan melalui perbuatan atau amaliah sehari-hari, yaitu dengan selalu berniat bahwa yang kita lakukan adalah semata-mata hanya karena Allah Swt. Misalnya, kita berbuat baik kepada tetangga bukan disebabkan ia baik kepada kita, tetapi semata-mata karena Allah Swt. menyuruh kita untuk berbuat demikian. Kita bersedekah bukan karena kasihan, tetapi semata-mata karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk bersedekah membantu meringankan beban orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Hal ini mestinya dapat kita lakukan karena bukankah pada waktu kecil dulu kita mampu patuh melaksanakan perintah dan nasihat orang tua ?
Mengapa sekarang kitatidak sanggup patuh pada perintah-perintah Allah Swt ? Jika shalat dapat kita kerjakan karena semata-mata taat mematuhi perintah dari Allah Swt., rasanya mustahil bila kita tidak dapat bersikap demikian pada perbuatan-perbuatan kita yang lainnya !
Manusia adalah makhluk yang secara alami sering lupa dan sering berbuat kesalahan. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, “manusia itu tempatnya salah dan lupa.” Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda,
"Setiap keturunan Adam as. pasti melakukan kesalahan, dan orang yang baik adalah yang kembali dari kesalahan/dosa)".Berdasarkan kedua hadis di atas, manusia memiliki sifat dan karakter yang sering berbuat kesalahan dan lupa. Artinya, tak seorang pun yang terbebas dari kesalahan dan lupa. Namun demikian, tidaklah benar jika dikatakan bahwa tidak apa-apa jika seseorang melakukan kesalahan dengan dalih bahwa hal tersebut merupakan sifat manusia.Sebagai seorang mukmin, kita dituntut untuk selalu melakukan refleksi dan perenungan terhadap apa yangpernah kita perbuat. Ketika kita terlanjur melakukan kesalahan, bersegeralah untuk kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Demikian pula sifat lupa, ia kadang menjadi sebuah nikmat dan juga bencana. Lupa bisa menjadi nikmat manakala seseorang terlupa dengan kejadian sedih yang telah menimpanya. Dapat dibayangkan, betapa sengsaranya jika seseorang tidak bisa melupakan kisah sedih yang pernah dialaminya! Lupa juga dapat menjadi bencana, misalnya dengan lupa tersebut mengakibatkan kecerobohan dan kerusakan. Banyak di antara manusia melakukan sesuatu kesalahan yang dapat merugikan dirinya dan orang lain karena lupa.Sekali lagi,
tanamkanlah dalam hatimu dalam-dalam"Aku selalu dekat dengan ALLAH Swt."
Agar dekat dengan Allah Swt
. Langkah lebih Dekat dengan Allah Ta’alai
Sabar dalam musibah, bersyukur dalam kenikmatan SEORANG Muslim itu tidak pernah tidak bahagia, apa pun kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hal ini karena seorang Muslim memiliki frame berpikir tauhid dan orientasi hidup akhirat yang sangat kuat,sehingga sangat sulit mereka lupa akan keadilan dankasih sayang Allah terhadap setiap hamba-hamba-Nya yang beriman.Namun jika ada seorang Muslim mengaku kurang bahagia, pasti ada sesuatu yang bermasalah dalam dirinya, khususnya masalah akidah dan tauhidnya.Mengapa seorang Muslim hidupnya terasa sangat berat, seolah sempit dadanya, sesak nafasnya dan hidup penuh dengan ketidakbahagiaan?Itu bukan karena mereka benar-benar tidak merasa bahagia, tetapi karena mereka boleh jadi tidak mengerti dan tak mengenal Allah Subhanahu Watata’ala.Di bawah ini adalah lima kunci ‘mengenal’ Allah Ta’ala”Bersyukur kepada Allah Ta’laBagaimana mungkin seorang Muslim itu gelisah dan tidak bahagia hidupnya. Padahal, nikmat Allah mengalir dalam diri dan keidupannya dengan begitu deras dan tak pernah henti.Aid Al-Qarni dalam bukunyaLa Tahzanmengingatkan, “Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.”Pesan tersebut memang patut kita renungkan. Karena di dalam Al-Qur’an Allah juga menegaskan bahwa nikmat Allah terhadap diri kita tak bisa dihitung jumlahnya.وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”(QS: Ibrahim [14]: 34).Untuk itu, marilah kita berpikir dan merenung, sungguh Allah sangat memuliakan hidup kita. Bahkan, jika kita bersyukur sedikit saja misalnya, Allah sudah menyediakan buat kita tambahan nikmatyang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur maka kehidupan kita akan semakin sempit, susah dan sulit.وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS: Ibrahim [14]: 7)Berprasangka Baik pada Allah Ta’alaSiapa di muka bumi ini orang yang hidup tanpa masalah? Semua orang memiliki masalah, tetapi Muslim yang baik tidak akan resah karena masalah, meskipun seolah-olah masalah itu sangat berat dan sangat membebani kehidupannya.Umumnya, orang sangat tidak mau dengan yang namanya masalah. Tetapi mau tidak mau hidup pasti akan berhadapan dengan masalah. Lantas bagaimana jika masalah itu terasa seolah sangat menyiksa? Tetap saja berprasangka baik kepada Allah. Karena Allah mustahil menzalimi hamba-Nya.َعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَشَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.”(QS: Al-Baqarah [2]: 216).Terus bagaimana jika ternyata doa yang kita panjatkan kepada Allah Ta’ala seolah tak kunjung terkabulkan, tetaplah berprasangka baik dan janganberhenti berdoa kepada-Nya.Syeik Ibn Atha’illah dalam kitabnya“al-Hikam”menuliskan bahwa, “Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri.”Jika syukur danhusnudzonbillahtelah bisa kita lakukan, tahap berikutnya adalah membuang jauh sifat buruk sangka terhadap sesama. Karena buruk sangka terhadap sesama tidak memberikan dampak apa pun kecuali diri kita akan semakin terperosok dalam keburukan-keburukan. Oleh karena itu Islam sangat melarang umatnya memelihara sifat buruk tersebut.“Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.”(HR. Bukhari).Kemudian di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa.”(QS: Al-Hujurat [49]: 12).Jadi, sangat rugi kalau kita sampai membiarkan prasangka buruk bersarang dalam dada dan kepala kita. Karena selain tidak memberi manfaat positif, tanpa kita sadari, dosa kita justru terus bertambah dan hati kita semakin buruk serta mental kita juga akan semakin jatuh,naudzubillah.Sebab menurut Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya“Quwwat Al-Tafkir,”buruk sangka (berpikir negatif) adalah candu.“Berpikir negatif adalah penyakt yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras,” tulisnya.Sabar dalam IkhtiarLangkah berikutnya agar hidup kita senantiasa bahagia adalah sabar dalam ikhtiar. Allah telah menetapkan suatu ketetapan (hukum) dalam kehidupan ini, di antaranya adalah hukum proses. Dimana sukses seseorang dalam hal apa pun tidak bisa dicapai secara instan, perlu waktu, kerja keras, konsentrasi dan pengorbanan yang tidak sedikit.Untuk itu, sabarlah dalam ikhtiar. Jangan berpikir ingin cepat berhasil, apalagi kalau sampai menabrak rambu-rambu syariat. Lebih baik sabar, karena kalaupun hasil belum tercapai, setidaknya jiwa kita tenang, dan keyakinan akan pertolongan Allah akandatang semakin kuat.Bahkan Allah akan senantiasa menyertai dan mencintai kita karena kesabaran kita. Umar bin Khaththab berkata, “Dengan kesabaran, kita tau makna hidup yang baik.”Tawakkal kepada AllahAkan tetapi, bagaimana jika ternyata harapan dari upaya dan pengorbanan yang kita lakukan tidak membuahkan hasil?Tawakkal saja kepada Allah. Karena yang paling mengerti mana yang terbaik buat hidup kita hanyalah Allah bukan diri kita sendiri. Oleh karena itu, perkuatlah ketawakkalan kita kepada Allah Ta’ala.Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,“Tawakkal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.” Artinya, sebab bukanlah penentu, tetapi Allah Yang Maha Menentukan.Dengan empat langkah tersebut, insya Allah kita akan selamat dari tipu daya setan dalam menjalani kehidupan sementara di dunia ini. Bahkan Allah akan senantiasa melindungi kita dan menambah kasih sayang-Nya kepada kita bersebab kita memang berharap hanya kepada-Nya dengan selalu bersyukur, berprasangka baik terhadap-Nya juga terhadap sesama, bersabar dan bertawakkal
Minggu, 06 November 2016
Kisah pemuda penggali kubur di zaman rasulullah
Kisah Pemuda Penggali Kubur Di Zaman Rasulullah
. “Ya Allah, aku adalah hambaMu yang telah berbuat dosa besar. Sekarang aku datang ke pintuMu, agar Engkau berkenan menjadi penolongku disisi kekasihMu. Sungguh Engkau Maha Pemurah kepada hamba-hambaMu dan tiada tersisa harapanku kecuali kepadaMu….”
kali ini saya akan memposting kisah pemuda penggali kubur, yang diambil dari Kitab Mukasyafah Al Qulub Karangan Imam Ghazali.
Diriwayatkan bahwa pada zaman Rasulullah s.a.w, Umar bin Khaththab, salah seorang sahabat terdekat Rasullulah s.a.w menangis di depan pintu rumah Rasulullah s.a.w. Mendengar suara Umar bin Khaththab berada di luar, maka Rasulullah s.a.w segera keluar dan bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Umar mengapa engkau menangis?”
Kemudian Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, bersamaku ada seorang pemuda yang telah membuat hatiku sedih dengan tangisnya.”
Lalu Rasulullah s.a.w memerintahkan Umar agar membawa masuk anak muda tersebut ke dalam. Atas perintah tersebut, Umar bin Khaththab lalu mengajak pemuda yang datang bersamanya sambil keduanya tetap menangis.
Pemuda itu disuruh duduk di depan Rasulullah s.a.w dan Umar Ibnu Khaththab duduk di sebelahnya. Rasulullah s.a.w kemudian bertanya: “Wahai pemuda, mengapa engkau menangis?”
Pemuda itu menjawab sambil tetap menangis: “Wahai Rasulullah, dosaku sangat besar dan aku takut Allah memurkaiku…”
“Apakah engkau telah menyekutukan Allah dengan sesuatu?” tanya baginda s.a.w.
“Tidak, ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil tetap menangis.
“Apakah engkau telah membunuh seseorang dengan alasan yang tidak benar?” Rasulullah s.a.w kembali bertanya.
“Tidak ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil terus menangis.
Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Sungguh, dosamu sebesar apa pun, Allah akan mengampuninya, sekalipun memenuhi langit dan bumi.”
“Sungguh dosaku lebih besar dari itu, ya Rasul,” sahut pemuda itu.
“Apakah besar dosamu melebihi Arasy? Besar mana dengan Arasy?” tanya baginda s.a.w lagi.
“Dosaku sangat besar, ya Rasulullah.”
“Lalu besar mana dosamu dengan keagungan, ampunan, dan rahmat Allah?” tanya Rasulullah s.a.w.
“Tentu keagungan, ampunan, dan rahmat Allah lebih besar. Tetapi dosaku sangat besar, ya Rasulullah” jawabnya masih dalam keadaan menangis terisak-isak.
Karena kurang mengerti maksud pengakuan dari pemuda itu, akhirnya Rasulullah s.a.w mendesaknya, “Cobalah katakan dosa apa yang pernah engkau perbuat?”
“Aku malu menyebutnya, ya Rasulullah…” kata si pemuda itu.
Karena Rasulullah s.a.w terus mendesak pemuda itu untuk mengatakan dosanya secara jujur. Maka dengan perasaan malu dan takut, pemuda itupun menceritakan dosa yang dilakukannya.
“Wahai Rasulullah, aku ini seorang penggali kubur, sejak tujuh tahun lalu. Hingga meninggalnya puteri dari seorang sahabat Ansar. Melihat kecantikan dan kemontokan tubuhnya, nafsu birahiku memuncak. Setelah kuburan sepi, ku bongkar kuburnya dan ku telanjangi mayat gadis itu. Setelah ku cumbui, nafsu berahiku tak dapat ku tahan, lalu ku setubuhi. Saya terkejut, tiba-tiba mayat gadis itu berkata, “Tidakkah engkau malu kepada Allah, pada hari Allah menghukum orang-orang yang berbuat zalim, sementara engkau menelanjangiku dan menyetubuhiku diantara orang-orang yang telah mati. Engkau membuatku dalam keadaan junub di hadapan Allah!”
Mendengar pengakuan dari si pemuda itu, Rasulullah s.a.w segera bangkit berdiri dan meninggalkannya, seraya berseru: “Hai pemuda fasik, pergilah! Jangan engkau dekati aku! Nerakalah tempatmu kelak!”
Pemuda itu pun segera keluar meninggalkan rumah Rasulullah s.a.w seraya menangis. Dia berjalan dengan arah tak menentu keluar kampung. Sampailah dia di padang pasir yang luas lagi panas. Tujuh hari lamanya ia tidak makan dan minum karena penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam hingga lemahlah keadaan tubuhnya tak kuasa lagi berjalan, lalu kemudian jatuh tersungkur di tempat itu. Di atas pasir ia bersujud kepada Allah, lalu berdoa dan memohon ampunanNya dalam tangisnya.
“Ya Allah, aku adalah hambaMu yang telah berbuat dosa besar. Sekarang aku datang ke pintu-Mu, agar Engkau berkenan menjadi penolongku disisi kekasih-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Mu dan tiada tersisa harapanku kecuali kepadaMu. Ya Allah Tuhanku, sudilah menerima kehadiranku, kalau tidak datangkanlah api-Mu dari sisi-Mu, dan bakarlah tubuhku dengan api-Mu di dunia ini, daripada Kau bakar tubuhku di akhirat nanti.”
Setelah itu Malaikat Jibril a.s datang kepada Rasulullah s.a.w. Usai menyampaikan salam dari Allah, Jibril a.s berkata: “Wahai Muhammad, Allah s.w.t bertanya kepadamu, “Apakah engkau yang menciptakan makhluk?”
“Bahkan Dialah yang menciptakan diriku dan mereka,” jawab Rasulullah s.a.w.
“Apakah engkau memberi rezeki kepada mereka?” tanya Jibril a.s.
Rasulullah s.a.w menjawab: “Bahkan Dia memberi rezeki padaku dan mereka.”
“Apakah engkau menerima taubat mereka?” tanya Jibril a.s untuk kali yang sekiannya.
“Bahkan Dia yang berhak menerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya” ujar Rasulullah s.a.w.
Jibril a.s lalu berkata, Allah berfirman kepadamu; “Telah datang kepadamu seorang hamba-Ku dan dia menerangkan satu dosa dari beberapa dosanya, maka kamu berpaling (marah) kepadanya dari dosanya, maka bagaimana keadaan orang-orang mukmin kelak, apabila mereka datang dengan dosa yang banyak lagi besar ibarat gunung yang besar? Engkau adalah utusan-Ku yang Aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam. Maka jadilah kamu orang yang sayang menyayangi pada semua orang yang beriman, menjadi penolong bagi orang-orang yang telah berdosa dan memaafkan keterlanjuran dan kesalahan mereka (hamba-Ku); karena sesungguhnya Aku telah mengampunkannya (menerima taubatnya) dan dosanya.”
Kemudian Rasulullah s.a.w. mengutus beberapa orang sahabat, maka mereka temui pemuda tersebut lalu memberikan khabar gembira kepadanya dengan maaf dan ampunan-Nya. Lalu mereka membawa pemuda tersebut berjumpa Rasulullah yang mana ketika itu beliau (Rasulullah) sedang menunaikan sembahyang Maghrib, dan merekapun bermakmum di belakangnya.
Ketika Rasulullah s.a.w. membaca surah Al Fatihah yang dilanjutkan dengan surah At-Takaatsur (Al Haakumuttakaatsur), sesampai baginda membaca ‘Hattaa Zurtumul Maqaabir’ (Kamu telah dilalaikan sehingga kamu masuk kubur), maka berteriaklah pemuda itu dengan keras sekali langsung jatuh. Ketika mereka selesai sembahyang, mereka dapati pemuda itu telah meninggal dunia. Mudah-mudahan Allah Taala membelas kasihaninya.
Tags: kisah seorang pemuda penggali kubur, kisah seorang pemuda, kisah pemuda, kisah pemuda penggali kubur, penggali kubur, cerita penggali kubur, kisah taubatnya penggali kubur, kisah pemuda penggali kubur di zaman nabi.
Sungguh allah akan memaafkan hambanya yang memiliki kesalahan besar bahkan dosa yang besar walaupun dosa yang telah di perbuat seluas bumi dan langit, yang penting kita bersunguh sungguh meminta ampunanya,sungguh maha pengasih, maha penyayang, lagi maha pemaaf
Terima Kasih semoga bermanfaat "
Sabtu, 05 November 2016
KEBENARAN MATAHARI YANG MENGELILINGI BUMI
TERNYATA MATAHARI MENGELILINGI BUMI
Sungguh maha suci Allah swt yang menciptakan alam semesta ini, maha besar, maha esa dengan semua penciptaanya yang sungguh luar biasa nikmat yang telah ia berikan, yang telah ia limpahkan kepada hambanya. Alhamdulillah atas kehidupan hari ini. Ia tak pernah membedakan setiap hambanya, ia memberi reski baik yang menyembahnya maupun yang syirik sungguh maha penyanyangnya allah pada hambanya, maha pemurahnya allah maha mengasihi dengan kekuasaanya yang tak terbatas
Ada ungkapan penyair arab :
كم من عائب قولا صحيحا # وأفاته من الفهم السقيم
“Berapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar disebabkan karena pemahaman yang keliru”
الإنسان عدو لما جهل به
“Manusia itu memusuhi yang dia tidak ketahui”
Berdasarkan syair di atas, maka penulis akan memaparkan tentang “matahari mengelilingi bumi”. Adapun alasan penulis memilih judul ini adalah sebagai berikut:
Membuktikan kekuasaan Allah SWT
Allah SWT berfirman :
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” ( QS. Al-Baqarah :147 )
Membuktikan kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT berfirman :
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرا
"Maka apakah mereka tidak mempelajari Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. ( QS. An-Nisa’ :82 )
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?” ( QS. Muhammad :24 )
Di dalam hadits Rasulullah :
َقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّه
“Sungguh aku tinggalkan kepada kalian, kalian tidak tersesat selamanya apabila berpegang teguh dengan Al-Qur’an” ( HR. Muslim : 2137 )
Memberikan pemahaman bahwa matahari mengelilingi bumi ( bukan sebaliknya )
Sebagai seorang Muslim hendaklah berkata sesuai yang diketahuinya. Karena berkata sesuatu tanpa ilmu itu merupakan sikap mendustakan atas nama Allah.
Allah SWT berfirman :
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” ( QS. Al-Isra’ : 36 )
وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” ( QS. An-Nahl : 116 )
Oleh sebab itu, agar tidak berkata tanpa ilmu, maka penulis akan mengetengahkan tentang “Matahari mengelilingi bumi” sebagai obat dari ketidaktahuan di dalam masalah ini, dan tidak termasuk Muqollid ( orang yang mengikuti sesuatu tanpa ilmu ) dan menjadi muttabi’ ( orang yang mengikuti sesuatu dengan ilmu ).
Pembahasan
Di dalam pembahasan ini terdapat dua point yang penting untuk pembahasan matahari mengelilingi bumi, yaitu :
Bumi tidak bergerak
Sebelum membahas matahari mengelilingi bumi, maka kami akan memaparkan bahwa bumi tidak bergerak.
Dalil pertama, Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” ( QS. Fathir : 41 )
Berkata Imam Malik :
“Langit ( termasuk bumi )tidak berputar”1
Dari dalil di atas terlihat jelas bahwa Allah menahan bumi dan langit sehingga tidak bergerak.
Dalil Kedua, Allah SWT berfirman :
وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” ( QS. An-Nahl : 15 )
Berkata Imam Al-Baghowi :
“Agar tidak berguncang bersama kamu yaitu tidak bergerak dan tidak miring”2
Ayat ini menjelaskan tentang hikmah diciptakannya gunung-gunung, dan menjelaskan Allah menjaga agar bumi tidak guncang ( bergerak ).
Dalil ketiga, Allah SWT berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”( QS. Luqman : 10 )
Berkata Imam At-Thobari :
أَنْ لاَ تَضْطَرِبَ بكم، ولا تتحرّك يمنة ولا يسرة، ولكن تستقرّ بكم
“Tidak bergoncang bersama kalian, dan tidak bergerak ke kanan maupun ke kiri, akan tetapi menetap bersama kalian”.3
أثبتها بالجبال، ولولا ذلك ما أقرّت عليها خلقا
“Menancapkan dengan gunung, seandainya bukan dengan itu, maka tidak ada makhluq yang hidup di atas bumi”4
Matahari mengelilingi Bumi
Dalil-dalil syariat secara lahir mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi, sehingga perputarannya itu menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di muka bumi. Kita tidak bisa membantah makna lahir dari dalil-dalil tersebut kecuali dengan dalil yang lebih kuat, yang memungkinkan kita menakwilkannya dengan takwil yang lebih kuat dari makna lahirnya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi sehingga menghasilkan pergantian malam dan siang itu adalah sebagai berikut:
Dalil pertama yaitu Allah SWT berfirman tentang hujjah Ibrahim kepada orang yang menyanggah Tuhannya,
فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." ( QS. Al-Baqarah : 258 )
Dari dalil di atas telah jelas kepada kita bahwa matahari yang bergerak. Apabila bumi yang bergerak maka disebutkan dalam ayat ini adalah bumi.
Dalil kedua yaitu Allah SWT juga berfirman tentang Ibrahim,
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
" Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan." ( QS. Al-An’am : 78 )
Yang tenggelam adalah matahari bukan bumi, seandainya yang beredar adalah bumi tentu dikatakan bahwa ketika bumi tenggelam.5
Dalil ketiga yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
" Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." ( QS. Al-Kahfi : 17 )
Di dalam ayat ini apabila menyebutkan kata الشَّمْسَ maka akan bergandengan dengan kata طَلَعَتْ ( terbit )dan غَرَبَتْ ( terbenam ). Dengan dalil ini menunjukkan bahwa matahari mengalami pergerakan, dan bukan bumi yang bergerak.
Dalil ke empat yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."( QS. Al-Anbiya’ :33 )
Dari dalil di atas, menunjukkan bahwa yang beredar itu adalah matahari dan bulan.Seandainya bumi yang berputar, maka tentulah Allah menyebutkan bahwa bumi.
Dan kata كُلٌّ adalah mengandung pengertian bahwa :
كل واحد من الشمس والقمر
“Setiap salah satu diantara matahari dan bulan”6
Dalil kelima yaitu Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam."( QS. Al-A’raf : 54 )
Dinyatakan bahwa malam meminta kepada siang dan peminta berarti yang datang berikutnya, padahal diketahui bersama bahwa malam dan siang, keduanya mengikuti matahari.
Dalil keenam yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُسَمًّى ألا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."( QS. Az-Zumar : 5 )
Firman Allah,"Dia menutupkan malam atas siang" atau mengelilinginya seperti surban yang mengelilingi kepala. Ini menunjukkan bahwa malam dan siang itu mengelilingi bumi secara bergantian. Seandainya yang berkeliling itu bumi, tentu dikatakan,"menjadikan bumi mengelilingi malam dan siang." Dalam firman Allah"masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan" menjelaskan pernyataan sebelumnya bahwa matahari dan bumi berjalan pada porosnya masing-masing, karena berjalanya sesuatu yang begerak dengan gerakannya lebih jelas daripada sesuatu yang berjalan di tempat tanpa gerak.
Dalil ketujuh, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا (2)
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya."( QS. Asy-Syams : 1-2 )
Kata talaha (mengiringinya) berarti datang sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa matahari dan bulan berjalan mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya, tidak mungkin bulan mengiringi matahari saja, tetapi kadang bulan akan mengelilingi matahari dan kadang mengelilingi bumi, karena matahari lebih tingi darinya.
Dalil ke delapan, firman Allah SWT:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (38) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39)لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)
"Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya." ( QS. Yasin : 38-40 )
Penyandaran kata "berjalan" kepada matahari karena matahari adalah termasuk muannats majazi sehingga fi’il yang digunakan adalah fi’il mudhori’(تَجْرِي )dan perjalanannya telah ditetapkan waktunya oleh Allah ini menunjukkan bahwa matahari benar-benar berjalan dengan ketentuan yang canggih sehingga perjalanan itu menyebabkan adanya pergantian malam, siang dan musim. Menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah menunjukkan atas perpindahannya. Seandainya yang berputar itu bumi, tentu manzilah-manzilah itu ditetapkan untuknya, bukan bulan. Ketidakmungkinan matahari mendapatkan bulan dan pergantian malam dan siang menunjukkan adanya gerakan yang terdorong dari matahari, bulan, malam dan siang. Ayat ini menjelaskan kepada kita dengan tegas bahwa yang bergerak itu adalah matahari dan bulan.
9. Dalil ke sembilan, Dari Hadits Nabi:
“… maka Nabi itu pun berperang, dan dia mendekat pada desa yang dituju saat Shalat Ashar,maka dia berkata kepada matahari: “Engkau adalah makhluk yang diperintah dan saya pun diperintah, Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku sebentar.” Maka matahari itu pun ditahan sampai Allah memberikan kemenangan baginya. ” (Riwayat Bukhari)
Dalil ke sepuluh, Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنَّ هَذِهِ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً فَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا ارْتَفِعِي ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً وَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا ارْتَفِعِي ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِي لَا يَسْتَنْكِرُ النَّاسَ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا ارْتَفِعِي أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ ذَاكَ حِينَ { لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }
"Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu berkata,'Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Tahukah kamu ke mana matahari ini pergi?'Para sahabat menjawab,'Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui'. Lantas Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Perjalanan matahari ini berakhir di suatu tempat yang telah ditetapkan di bawah 'Arsy, lalu merebahkan diri untuk bersujud. Ia tetap berada dalam keadaan tersebut, sehinggalah diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Kemudian matahari kembali sehingga dia terbit dan berputar sebagaimana biasa. Matahari terus beredar lagi sehingga sampai di suatu tempat yang di tetapkan di bawah Arsy lalu merebahkan lagi dirinya untuk bersujud. Ia juga tetap berada dalam keadaan demikian hingga diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Matahari kembali lagi sehinggalah ia terbit dan berkeliling sebagaimana biasa tanpa diketahui oleh manusia dan berakhir pada tempat yang telah ditetapkan di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sehingga akhirnya diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan terbitlah di sebelah barat'. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terus bersabda,'Tahukah kamu kapankah itu akan terjadi? Itu akan terjadi ketika tidak berfaidah lagi iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau tidak berusaha mengerjakan kebaikan terhadap imannya'."( Hadits Muttafaqun ‘alaihi )
Sabda Rasulullah, "kembalilah ke tempat mana kamu datang, kemudian matahari kembali sehingga dia terbit" menunjukkan secara jelas bahwa matahari mengelilingi bumi yang meyebabkan matahari terbit dan tenggelam.
Realita yang terjadi
a. Siapapun akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa matahari setiap pagi terbit dari ufuk timur lalu bergerak ke pertengahan lalu terbenam di barat. Itulah kejadian alam yang tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Itu sebagai bukti bahwa matahari yang bergerak. Namun kita diajarkan bahwa pergerakan matahari ke arah barat karena gerakan rotasi bumi. Lalu kalau ditanya kenapa yang terlihat bergerak itu matahari? Maka dijawab bahwa itu sama dengan seseorang yang naik mobil yang cepat, maka seolah-olah dia merasakan bahwa yang bergerak adalah pohon dan bangunan disekitarnya dan orang itu merasa kayaknya diam dalam mobil. Namun kalau difikirkan lebih lanjut bahwa secepat apapun mobil yang dinaiki seseorang, maka orang tersebut akan tetap merasakan bahwa dia bergerak.
b. Lihatlah awan yang ada di atas kita, dia tidak berada di bumi ataupun dilangit tetapi berada di antara keduanya. Lalu, mengapa awan itu terkadang bergerak ke barat atau ke timur, atau ke utara, atau ke selatan? Seandainya bumi berotasi maka mestinya awan itu bergerak sama dengan arah rotasi bumi. Tapi ternyata?
c. Jika kita naik pesawat misalnya dari Indonesia ke Saudi Arabia, lalu pesawat itu diarahkan ke atas sehingga keluar dari gaya gravitasi bumi, maka apakah pesawat itu butuh bergerak ke barat ataukah cukup diam di tempat menunggu bumi berotasi atau bagaimana?
Bagaimana sikap kita dalam masalah ini ?
Pada awalnya masyarakat memahami bahwa bumi mengelilingi matahari ( Heleosentris ), “Heleosentris” diambil dari bahasa yunani yaitu dari kata “helios” yang artinya matahari dan kentron artinya pusat.Sebenarnya terdapat beberapa ilmuwan muslim sejak zaman sebelum Copernicus membuat teori heleosentris,yang berhubungan dengannya diantaranya:
Al bairuni (973-1048 M): yang menyatakan tentang pengukuran posisi bintang, bahwa bumi bundar, bumi berputar pada sumbunya bukan langit yang mengelilingi bumi, bahwa bumi mengelilingi matahari, juga orbit planet yang berbentuk lingkaran dan elips,
Al Batani (858-929 M) / Albategnius ilmuwan pertama muslim kita yang mengukur dengan sangat cermat bahwa panjang tahun adalah 365 hari 5 jam 46 menit 24 detik,
Az Zarqoni (1025-1087 M) yang mendahului Kepler dengan menyatakan bahwa planet itu mengelilingi matahari dengan lintasan elips.
Dan ilmuan non muslim diantaranya :
Nicolaus Copernicus (1473-1543 M) –de revolutionibus orbium caelestium 1507 M. ini adalah judul bukunya yang masuk dalam daftar index libiurum prohibition (1616-1757 M) yaitu buku-buku yang dilarang untuk dibaca dan di edarkan yang kemudian dikenal dengan nama (system Copernicus). Maka dialah yang berpendapat bahwa pusat peredaran benda antariksa adalah matahari dan dinamakan (heleosentris),
Giordono Bruno ( 1544-1600 M) yang dihukum bakar oleh gereja karena mengajarkan teori ini.salah satu ancaman gereja karena melanggar apa yang aturan gereja buat,
Galileo Galilei ( 1564-1642 M ) (lahir di pisa,toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun)yang diinkusisi (dengan meminum racun) oleh pihak gereja karena menyerukan teori heleosentris dan bumi itu bulat. Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Setelah pendapat yang keluar dari Philolaus pada akhir abad 5 bahwa pusat peredaran benda antariksa ditempati oleh pusat api raksasa (ahluge central fire) yang kemudian dinamakan (center earth) munculah teori Geosentris pada abad pertengahan diambil dari kata “Geo” artinya tanah dan “sentries” artinya pusat.dan sering disebut juga system ptomeleus seprti dalam bukunya yang berjudul “ALMAGEST” dan berikut beberapa dukungan yang menguatkan teori geosentris dari beberapa ilmuwan dan dari pihak gereja yaitu sebagai berikut :
Pihak gereja yang sedang berkuasa kecuali Biarawan Koppernigk: teori ini telah dianut sejak lama hingga muncul Coppernicus (16 M)
Aristoteles (348-322 SM): dalam buku berjudul “Physica”
Iskandar Ptolomeus (151-127 SM): sehingga teori geosentris bertahan selama 12 abad,
Claodeus ,ahli matematika dan ilmu bintang yang mengemukakan bahwa bumi menempati kedudukan sebagai pusat peredaran benda antariksa,
Berangkat dari ulasan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ini, maka penulis bukanlah mengajak kepada doktrin gereja, akan tetapi mengikuti Al-Qur’an dan Hadits yang disertai dengan pembuktian sesuai dengan realita. Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa keyakinan ini (matahari mengelilingi bumi) sama dengan keyakinan agama Kristen yang ada di dalam kitab injil pada abad pertengahan.
Perlu diketahui, bahwa menurut keyakinan seorang muslim kitab Injil yang ada sekarang ini sudah tercampur antara firman-firman Allah dengan ayat-ayat yang dibuat oleh tangan-tangan kotor manusia. Lalu bagaimana kita bersikap apabila ada cerita-cerita dari injil? Bisa dijawab bahwa di masalah tentang injil ini? Maka perinciannya sebagai berikut :
Jika di dalam injil terdapat keterangan yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka kita wajib meyakini bahwa hal itu adalah firman Allah. Misalnya di dalam Injil ada keterangan bahwa Allah itu satu maka kita harus meyakini bahwa itu adalah firman Allah.
Jika di dalam Injil terdapat keterangan yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka kita tidak boleh membenarkannya dan wajib mendustakannya. Misalnya di dalam Injil ada cerita-cerita tentang para Nabi dan Rasul dimana digambarkan para Nabi dan Rasul tersebut melakukan perbuatan yang tercela misalnya ada Nabi yang meminum minuman keras, dan sebagainya maka dengan tegas kita wajib mendustakan cerita tersebut karena para Nabi dan rasul merupakan manusia mulia pilihan Allah untuk menyeru manusia untuk beribadah kepada-Nya dan menganjurkan berbuat amal baik.
Jika di dalam Injil ada keterangan yang tidak ada keterangan di dalam al-Quran dan As-Sunnah maka kita tidak boleh membenarkannya dan juga tidak boleh mendustakannya. Misalnya di dalam Injil ada keterangan tentang kota Nabi Luth bernama Sodom dan Gomorah maka kita tidak boleh membenarkan dan juga tidak boleh mendustakan cerita itu.
Khatimah
Dari penjelasan di atas menjelaskan bahwa bumi itu diam, tidak bergerak dan ternyata matahari-lah yang mengelilingi bumi, dan ayat –ayat di atas merupakan bukti dan penjelasan yang kuat.Dan Allah telah membuktikan secara mantuq ( tersurat ) dan mafhum ( tersirat ).Dan ini merupakan keistimewaan Islam, karena segala sesuatu telah di jelaskan oleh Allah SWT.Apabila seseorang tidak dapat mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan Sunnah maka hatinya telah ditutup oleh Allah.Telah berlalu berbagai macam teori seperti teori charles darwin yang dihancurkan oleh teori Harun Yahya. Sebenarnya teori Galileo Galilei dan Ikhsan Newton yang menyatakan “Bumi mengelilingi matahari” lemah, akan tetapi belum ada yang mampu mematahkan teori itu, dan mereka mengklaim orang yang menentang teori itu adalah teori gereja.
Matahari mengelilingi bumi menurut AL-QUR'AN
Benarkah Bumi Mengitari Matahari ??
Slamat datang ini saya akan hilangkan keraguan kita bersama mana yang sebenarnya berotasi atau berovolusi itu bumi atau matahari,
sungguh hal ini sangat sulit untuk kita pahami , karena sudah banyak penemu, tapi belum begitu pasty untuk di percaya kebenaranya, padahal hal menurut al-qur'an gimana yah ok sob kita simak sama sama
. MATAHARI MENGELILINGI BUMI
SEBUAH KEPASTIAN DALAM AL-QUR’AN
1. BUMI DIAM TIDAK BERGERAK
Banyak sekali dalil yang menunjukan bahwa bumi itu diam dan tidak bergerak, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergerak, dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
”[QS. Fathir:41]
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
”[QS. Ar Ruum:25]
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap…”[QS. Al Mu’min:64]
“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”[QS. An Naml:61]
Ayat ini menunjukkan bumi tidak bergerak, karena seandainya bumi ini bergerak mengelilingi matahari, berarti ada pergeseran, maka bertentangan dengan ayat ini.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak serta tidak membuat goncangan penghuninya, karena tidak mungkin bisa dibuat hidup dengan baik…”
Berkata Imam Baghawi rahimahullah: tidak bergerak bersama penghuni
Berkata Imam Qurthubi rahimahullah: gunung-gunung bisa menahan dan mencegah bumi dari bergerak.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,”[QS. An-Nahl:15]
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”[QS. Al-Anbiya’:31]
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu…”[QS. Luqman:10]
Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:”Maksudnya Allah menancapkan di bumi gunung-gunung yang tangguh agar bumi itu tidak bergerak.”
“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya…”[QS. Fushshilat:10]
“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh…”[QS. Qof:7]
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,”[QS. An-Naba’:6-7]
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:”bumi itu ditundukan untuk makhluk-makhluk dalam keadaan tenang, tetap dan tidak bergerak.
“Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap…”[QS. Az-Zukhruf:10]
“…Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[QS. Al-Hajj:65]
Dari SUNNAH
Berdasarkan dalil:
Dari Sofyan bin ‘Assal al-Murodi Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah menjadikan sebuah pintu taubat di sebelah barat…pintu itu akan ditutup sehingga matahari akan terbit dari arahnya”[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani]
Seandainya bumi berputar maka berarti arah pintu itu akan berubah-ubah. Dan ini jelas bertentangan dengan nash hadits.
2. MATAHARI MENGELILINGI BUMI
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“…Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur…”[QS. Al Baqarah:258]
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”[QS. Al An’am:78]
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri…”[QS. Al-Kahfi:17]
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [QS. Al-Anbiya’:33]
“…Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…”[QS. Al A’raf:54]
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”[QS. Az-Zumar:5]
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,”[QS. Asy-Syams:1-2]
Dari ayat-ayat ini sudah jelas menunjuk bahwa matahari lah yang bergerak mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berotasi, niscaya Allah ta’ala tidak mengatakan bahwa matahari yang terbit. Allah menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh matahari. Allah Ta’ala menjadikan bahwa yang terbit, condong, tenggelam dan menjauhi itu semuanya dilakukan oleh matahari, seandainya bukan matahari yang bergerak niscaya tidak akan disandarkan semua perbuatan tersebut kepada matahari.
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:” Di ayat Allah menjadikan malam mengikuti siang, sedangkan yang mencari dan mengikuti itu pasti menyusul di belakangnya, dan diketahui bersama bahwa malam dan siang itu mengikuti peredaran matahari.’
DALIL AS-SUNNAH:
Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam pun banyak mengisyaratkan bahwa mataharilah yang beredar mengelilingi bumi. Di antaranya:
“Dari Abu Dzar b radiallahu ‘anhu ahwa pada suatu hari Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam pernah bersabda:”Tahukah kalian ke manakah matahari itu pergi? Mereka berkata:”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda:”Sesungguhnya matahari itu berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya:”Bangunlah!Kembalilah seperti semula engkau dating.’Maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud…”[HR. Bukhari, Muslim, ath-Thoyalisi, Ahmad, Abu Dawud,Tirmidzi, Nasa’I, dll]
Segi pengambilan hadits ini sangat jelas, bahwa Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan pergi, terbit, beredar kepada matahari, bukan kepada bumi, sedangkan kita semua mengetahui bahwa Allah Pencipta langit dan bumi lebih mengetahui tentang makhluk-Nya, daripada makhluknya, siapapun dia.
Dar Abu Huraihah radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam bersabda: ”Setiap persendian manusia itu harus disedekahi setiap hari setiap kali terbit matahari…”[HR. Bukhari, Muslim]
Dari hadits ini juga Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan terbit pada matahari, seandainya munculnya matahari itu bukan karena gerakan matahari niscaya Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam akan menyandarkan munculnya matahari itu dengan gerakan rotasi bumi.
KESEPAKATAN PARA ULAMA
1. Berkata Imam Abdul Qohir al-Baghdadi al-Isfiroyini rahimahullah:
“Ahlu sunnah sepakat atas tetap dan tenangnya bumi, dan bahwasanya bumi itu hanya bergerak kalau terjadi sesuatu misalnya gempa atau lainnya.”
2. Berkata Imam Ibnu Hazm rahimahullah:
“Terdapat sebuah dalil yang paten dan bisa langsung disaksikan dengan panca indera bahwa matahari mengelilingi bumi dari timur ke barat kemudia dari barat ke timur.”
3. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Siapapun yang berada di bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, saat berada di tengah-tengah, juga saat tenggelam. Di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat.”
Beliau juga berkata:”Siang dan malam itu terjadi dengan adanya matahari.”
4. Berkata Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah:”Kemudian perhatikan hikmah dari terbitnya matahari pada alam semesta, bagaimana Allah menentukannya, seandainya matahari itu hanya terbit di satu tempat di langit lalu berhenti dan tidak bergerak, maka sinarnya tidak akan sampai ke banyak arah, karena bayangan salah satu bagian bumi yang bulat akan menghalangi bagian lainnya, maka bagian yang tidak terbit matahari di situ akan menjadi malam selamanya, dan bagian yang matahari terbit akan siang selamanya, maka keduanya akan binasa. Dari sinilah maka hikmah Allah menuntut agar matahari itu terbit saat pagi hari dari timur kemudian terbit bagi daerah yang sebelah barat dan begitu seterusnya matahari selalu bersinar dan akan menyinari setiap bagian bumi sehingga dia menuju ke arah barat, dan akan menyinari bagian yang tadinya masih gelap saat pagi hari, dengan ini maka terjadilah pergantian malam dan siang yang dengannya maka bisa teraturlah kemaslahatan hidup manusia.”
5. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah: “Maksud dari keterangan (hadits Shahih Bukhari) ini adalah menjelaskan bahwa matahari beredar setiap hari dan setiap malam. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh para astronom bahwa matahari itu menempel di garis orbit dan hal ini berkonsekuensi bahwa yang beredar adalah garis orbitnya, sedangkan zhohir hadits ini bahwa mataharilah yang beredar dan bergerak. Dan semisal dengan ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala: “Semuanya beredar pada garis orbitnya.”
6. Berkata Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:”Telah tersebar pada zaman ini di kalangan para penulis dan pengajar bahwasanya bumi itu berputar sedangkan matahari itu tetap, dan pendapat ini diikuti oleh banyak orang, maka banyak sekali pertanyaan. Seputar masalah ini…
Maka saya katakan: Al-Quran dan as-Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukan bahwa matahari itu beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkan dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka.”
7. Berkata Syaikh al-Utsaimin rahimahullah:”Adapun pendapat kami tentang peredaran matahari mengelilingi bumi yang dengannya akan terjadi perubahan siang dan malam, maka kami berpegang dengan zhohir dari nash al-Kitab dan as-Sunnah bahwasanya matahari yang bergerak mengelilingi bumi yang dengannya terjadi pergeseran waktu siang dengan malam. Sehingga ada dalil yang qoth’I yang bisa dijadikan hujjah untuk bisa memalingkan dhohir nash al-Kitab dan as-Sunnah, dan manakah dalil itu?
8. Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah menulis risalah ‘Petir Yang Menyambar Atas Pengikut Pendapat Tatasurya Model Baru’, yang berisi pembelaan terhadap Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sekaligus bantahan terhadap Syaikh Muhammad Mahmud ash-Showwaf yang menyatakan bumi mengelilingi matahari.
9. Syaikh Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah:”Asal pendapat bumi mengelilingi matahari diambil dari Phytagoras seorang filsuf Yunani, dan ini adalah pendapat yang bathil yang sangat diketahui kebathilannya bagi orang yang hatinya diberi nur (cahaya) oleh Allah subhanahu wata’ala.
Inilah yang ditetapkan oleh para ulama, dan saya tidak mengetahui ada seorang imam dari kalangan salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) yang menyelisihinya.”
10. Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid rahimahullah menulis kitab ‘Petunjuk Bagi Orang yang Bingung Tentang Masalah Peredaran Matahari dan Bumi’. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang sangat kuat yang disampaikan secara gamblang.
Bagaimana sob udah deh hilangin aja keraguanya yang menghalangi fikiran kita tentang ciptaan allah swt,, sungguh maha suci allah yang menciptakan langit dan bumi, beserta alam semesta ini, betapa besarnya allah,. Kita hanyalah manusia, bagaimana mungkin kita sombong di muka bumi ini. ? Padahal kita hanya bagaikan butiran debu yang sangat kecil yang penuh dengan dosa. Apa yang kau sombongkan? Masih sanggup kha kamu bertingkah?
Hanya allah yang maha yang menciptakan segalanya. Dialah yang mengetahui yang tak kita ketahui "
Siip maaf apa bila ada salah salah kata atau bersifat menyinggung. Saya hanya hamba allah yang tak luput dari suatu kesalahan ,baik itu khilaf ataupun nafsu
Wassalam wr. Wb
By @ndi Candra19
Matahari mengelilingi bumi menurut AL-QUR'AN
Benarkah Bumi Mengitari Matahari ??
Slamat datang ini saya akan hilangkan keraguan kita bersama mana yang sebenarnya berotasi atau berovolusi itu bumi atau matahari,
sungguh hal ini sangat sulit untuk kita pahami , karena sudah banyak penemu, tapi belum begitu pasty untuk di percaya kebenaranya, padahal hal menurut al-qur'an gimana yah ok sob kita simak sama sama
. MATAHARI MENGELILINGI BUMI
SEBUAH KEPASTIAN DALAM AL-QUR’AN
1. BUMI DIAM TIDAK BERGERAK
Banyak sekali dalil yang menunjukan bahwa bumi itu diam dan tidak bergerak, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergerak, dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
”[QS. Fathir:41]
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
”[QS. Ar Ruum:25]
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap…”[QS. Al Mu’min:64]
“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”[QS. An Naml:61]
Ayat ini menunjukkan bumi tidak bergerak, karena seandainya bumi ini bergerak mengelilingi matahari, berarti ada pergeseran, maka bertentangan dengan ayat ini.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak serta tidak membuat goncangan penghuninya, karena tidak mungkin bisa dibuat hidup dengan baik…”
Berkata Imam Baghawi rahimahullah: tidak bergerak bersama penghuni
Berkata Imam Qurthubi rahimahullah: gunung-gunung bisa menahan dan mencegah bumi dari bergerak.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,”[QS. An-Nahl:15]
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”[QS. Al-Anbiya’:31]
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu…”[QS. Luqman:10]
Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:”Maksudnya Allah menancapkan di bumi gunung-gunung yang tangguh agar bumi itu tidak bergerak.”
“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya…”[QS. Fushshilat:10]
“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh…”[QS. Qof:7]
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,”[QS. An-Naba’:6-7]
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:”bumi itu ditundukan untuk makhluk-makhluk dalam keadaan tenang, tetap dan tidak bergerak.
“Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap…”[QS. Az-Zukhruf:10]
“…Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[QS. Al-Hajj:65]
Dari SUNNAH
Berdasarkan dalil:
Dari Sofyan bin ‘Assal al-Murodi Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah menjadikan sebuah pintu taubat di sebelah barat…pintu itu akan ditutup sehingga matahari akan terbit dari arahnya”[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani]
Seandainya bumi berputar maka berarti arah pintu itu akan berubah-ubah. Dan ini jelas bertentangan dengan nash hadits.
2. MATAHARI MENGELILINGI BUMI
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“…Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur…”[QS. Al Baqarah:258]
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”[QS. Al An’am:78]
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri…”[QS. Al-Kahfi:17]
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [QS. Al-Anbiya’:33]
“…Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…”[QS. Al A’raf:54]
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”[QS. Az-Zumar:5]
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,”[QS. Asy-Syams:1-2]
Dari ayat-ayat ini sudah jelas menunjuk bahwa matahari lah yang bergerak mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berotasi, niscaya Allah ta’ala tidak mengatakan bahwa matahari yang terbit. Allah menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh matahari. Allah Ta’ala menjadikan bahwa yang terbit, condong, tenggelam dan menjauhi itu semuanya dilakukan oleh matahari, seandainya bukan matahari yang bergerak niscaya tidak akan disandarkan semua perbuatan tersebut kepada matahari.
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:” Di ayat Allah menjadikan malam mengikuti siang, sedangkan yang mencari dan mengikuti itu pasti menyusul di belakangnya, dan diketahui bersama bahwa malam dan siang itu mengikuti peredaran matahari.’
DALIL AS-SUNNAH:
Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam pun banyak mengisyaratkan bahwa mataharilah yang beredar mengelilingi bumi. Di antaranya:
“Dari Abu Dzar b radiallahu ‘anhu ahwa pada suatu hari Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam pernah bersabda:”Tahukah kalian ke manakah matahari itu pergi? Mereka berkata:”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda:”Sesungguhnya matahari itu berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya:”Bangunlah!Kembalilah seperti semula engkau dating.’Maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud…”[HR. Bukhari, Muslim, ath-Thoyalisi, Ahmad, Abu Dawud,Tirmidzi, Nasa’I, dll]
Segi pengambilan hadits ini sangat jelas, bahwa Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan pergi, terbit, beredar kepada matahari, bukan kepada bumi, sedangkan kita semua mengetahui bahwa Allah Pencipta langit dan bumi lebih mengetahui tentang makhluk-Nya, daripada makhluknya, siapapun dia.
Dar Abu Huraihah radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam bersabda: ”Setiap persendian manusia itu harus disedekahi setiap hari setiap kali terbit matahari…”[HR. Bukhari, Muslim]
Dari hadits ini juga Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan terbit pada matahari, seandainya munculnya matahari itu bukan karena gerakan matahari niscaya Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam akan menyandarkan munculnya matahari itu dengan gerakan rotasi bumi.
KESEPAKATAN PARA ULAMA
1. Berkata Imam Abdul Qohir al-Baghdadi al-Isfiroyini rahimahullah:
“Ahlu sunnah sepakat atas tetap dan tenangnya bumi, dan bahwasanya bumi itu hanya bergerak kalau terjadi sesuatu misalnya gempa atau lainnya.”
2. Berkata Imam Ibnu Hazm rahimahullah:
“Terdapat sebuah dalil yang paten dan bisa langsung disaksikan dengan panca indera bahwa matahari mengelilingi bumi dari timur ke barat kemudia dari barat ke timur.”
3. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Siapapun yang berada di bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, saat berada di tengah-tengah, juga saat tenggelam. Di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat.”
Beliau juga berkata:”Siang dan malam itu terjadi dengan adanya matahari.”
4. Berkata Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah:”Kemudian perhatikan hikmah dari terbitnya matahari pada alam semesta, bagaimana Allah menentukannya, seandainya matahari itu hanya terbit di satu tempat di langit lalu berhenti dan tidak bergerak, maka sinarnya tidak akan sampai ke banyak arah, karena bayangan salah satu bagian bumi yang bulat akan menghalangi bagian lainnya, maka bagian yang tidak terbit matahari di situ akan menjadi malam selamanya, dan bagian yang matahari terbit akan siang selamanya, maka keduanya akan binasa. Dari sinilah maka hikmah Allah menuntut agar matahari itu terbit saat pagi hari dari timur kemudian terbit bagi daerah yang sebelah barat dan begitu seterusnya matahari selalu bersinar dan akan menyinari setiap bagian bumi sehingga dia menuju ke arah barat, dan akan menyinari bagian yang tadinya masih gelap saat pagi hari, dengan ini maka terjadilah pergantian malam dan siang yang dengannya maka bisa teraturlah kemaslahatan hidup manusia.”
5. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah: “Maksud dari keterangan (hadits Shahih Bukhari) ini adalah menjelaskan bahwa matahari beredar setiap hari dan setiap malam. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh para astronom bahwa matahari itu menempel di garis orbit dan hal ini berkonsekuensi bahwa yang beredar adalah garis orbitnya, sedangkan zhohir hadits ini bahwa mataharilah yang beredar dan bergerak. Dan semisal dengan ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala: “Semuanya beredar pada garis orbitnya.”
6. Berkata Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:”Telah tersebar pada zaman ini di kalangan para penulis dan pengajar bahwasanya bumi itu berputar sedangkan matahari itu tetap, dan pendapat ini diikuti oleh banyak orang, maka banyak sekali pertanyaan. Seputar masalah ini…
Maka saya katakan: Al-Quran dan as-Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukan bahwa matahari itu beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkan dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka.”
7. Berkata Syaikh al-Utsaimin rahimahullah:”Adapun pendapat kami tentang peredaran matahari mengelilingi bumi yang dengannya akan terjadi perubahan siang dan malam, maka kami berpegang dengan zhohir dari nash al-Kitab dan as-Sunnah bahwasanya matahari yang bergerak mengelilingi bumi yang dengannya terjadi pergeseran waktu siang dengan malam. Sehingga ada dalil yang qoth’I yang bisa dijadikan hujjah untuk bisa memalingkan dhohir nash al-Kitab dan as-Sunnah, dan manakah dalil itu?
8. Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah menulis risalah ‘Petir Yang Menyambar Atas Pengikut Pendapat Tatasurya Model Baru’, yang berisi pembelaan terhadap Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sekaligus bantahan terhadap Syaikh Muhammad Mahmud ash-Showwaf yang menyatakan bumi mengelilingi matahari.
9. Syaikh Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah:”Asal pendapat bumi mengelilingi matahari diambil dari Phytagoras seorang filsuf Yunani, dan ini adalah pendapat yang bathil yang sangat diketahui kebathilannya bagi orang yang hatinya diberi nur (cahaya) oleh Allah subhanahu wata’ala.
Inilah yang ditetapkan oleh para ulama, dan saya tidak mengetahui ada seorang imam dari kalangan salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) yang menyelisihinya.”
10. Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid rahimahullah menulis kitab ‘Petunjuk Bagi Orang yang Bingung Tentang Masalah Peredaran Matahari dan Bumi’. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang sangat kuat yang disampaikan secara gamblang.
Bagaimana sob udah deh hilangin aja keraguanya yang menghalangi fikiran kita tentang ciptaan allah swt,, sungguh maha suci allah yang menciptakan langit dan bumi, beserta alam semesta ini, betapa besarnya allah,. Kita hanyalah manusia, bagaimana mungkin kita sombong di muka bumi ini. ? Padahal kita hanya bagaikan butiran debu yang sangat kecil yang penuh dengan dosa. Apa yang kau sombongkan? Masih sanggup kha kamu bertingkah?
Hanya allah yang maha yang menciptakan segalanya. Dialah yang mengetahui yang tak kita ketahui "
Siip maaf apa bila ada salah salah kata atau bersifat menyinggung. Saya hanya hamba allah yang tak luput dari suatu kesalahan ,baik itu khilaf ataupun nafsu
Wassalam wr. Wb
By @ndi Candra19
Kamis, 03 November 2016
Zikir nu
WIRID DZIKIR SETELAH SHOLAT
Sedikit Berbagi Amalan WIRID, DZIKIR Setelah Sholat..
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Didalam shahih muslim diriwayatkan beberapa hadits yang berisi tentang dzikir setelah shalat fardhu. Dzikir atau bacaan yang biasa dibaca Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ialah:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.
ASTAGHFIRULLOHAL'ADZHIIM ALLADZII LA ILAHA ILLAHUWAL'HAYYUL QOYYUWM WAATUWBU ILAIH.
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكَ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
LA ILAHA ILLALLOHU WA'HDAHULA SYARIIKALAH, LAHULMULKA WALAHUL'HAMDU YU'HYII WAYUMIITU WAHUWA 'ALAKULLI SYAI'INQODIIR.
اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا اْلجَدِّ مِنْكَ اْلجَدُّ.
ALLOHUMMA LA MA NI'ALIMA A'THOIT, WALA MU'THIYA LIMA MANA'TA WALA YANFA'UDZAL JADDI MINKALJADD.
اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.
ALLOHUMMA AJIRNA MINANNAR.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمُ وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
ALLOHUMMA ANTASSALAMU WA MINKASSALAMU WA ILAIKA YA'UWDUSSALAM, FA'HAYYINA ROBBANA BISSALAMU WA ADKHILNALJANNATA DAROSSALAMI TABAROKTA ROBBANA WA TA'ALAITA YADZALJALALI WAL IKROM.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
A'UUDZU BILLAHIMINASYSYAITHONIRROJIIM.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ .
BISMILLAHIRRO'HMANIRRO'HIIM.
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَآلِّيْنَ. آمِيْنَ.
AL'HAMDULILLAHIROBBIL'AaLAMIiN - ARRO'HMANIRRO'HIM - MALIKI YAWMIDDIiN - IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IiN - IHDINASHSHIROTHOLMUSTAQIiM - SHIROTHOLLADZIiNA - AN'AMTA 'ALAIHIM - GHOIRILMAGH-DHUuBI 'ALAIHIM WALA_DHO_LLIiN(a) - AaMIiN.
وَإِلَهُكُمْ إَلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّه ُالسَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ.
WA ILAHUKUM ALAHU WA 'HIDU LAILAHA ILLAHUWAL'HAYYULQOYYUuM, LATA'KHUDZUHU SINATU WALANAUM LAHUMAFIiSSAMAWATI WAMAFIiL ARDH MANDZALLADZIi YASY-FA'U INDAHU ILLABIIDZNIH YA'LAMUMA BAINA AIDIiHIM WAMA KHOLFAHUM WALA YU'HIiTUuNA BISYAi IN MIN ILMIHI ILLA BIMA SYA' WASI 'AKURSIYYUHUSSAMAWATI WAL ARDHI WALA YA'UuDUHU 'HIFDZHUHUMA WAHUWAL'ALIYYUL'ADZHIiM.
قُـلْ هُـوَ اللهُ أَحَـدٌ ….. [ الإِخْـلاصْ ].
قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ الفَلَـقِ….. [ الفَلَـقْ ].
قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ النّـاسِ…..[ الـنّاس ].
إِلَهَنَا رَبَّنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا سُبْحَانَ اللهِ... سُبْحَانَ اللهِ (33 مرة).
ILAHANA ROBBANA ANTAMAULANA SUB'HANALLOH SUB'HANALLOH.
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا أَبَدًا اَلْحَمْدُ ِللهِ
... اَلْحَمْدُ ِللهِ (33 مرة).
SUB'HANALLOHI WABI'HAMDIHI DA 'IMAN ABADAN AL'HAMDULILLAH
AL'HAMDULILLAH...
اْلحَمْدُ ِللهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ وَفِي كُلِّ حَالٍ وَبِنِعْمَةِ يَا كَرِيْمُ
... اللهُ أَكْبَرُ (33 مرة).
AL'HAMDULILLAHI 'ALA KULLI'HALINN WAFIiKULLI'HALIN WABINI'MATI YAKARIiM ALLOHU AKBAR.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ.
ALLOHU AKBAR KABIiRON WAL'HAMDULILLAHI KATSIiRON WASUB'HANALLOHI BUKROTAN WA ASHIiLAN, LAILAHA ILLALLOHU WA'HDAHULASYARIiKALAH, LAHULMULKU WALAHUL'HAMDU YU'HYIi WAYUMIiTU WAHUWA 'ALAKULLI SYAi INQODIiR. WALA'HAWLA WALAQUWWATA ILLABI_LLAHIL 'ALIYYIL'ADZHIiM.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ (ثلاث مرات)، إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
ASTAGHFIRULLOHAL_'ADZHIIM(A), INNALLOHA GHOFUURURO'HIIM.
أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ.
AFDHOLUDZ-DZAKRI FA'LAM ANNAHU.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حي موجود).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حَيٌّ مَعْبُوْدٌ).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (...حَيٌّ بَاقٍ).
LA ILAHA ILLALLOH.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ... (33 مرة).
LA ILAHA ILLALLOH (33X)/100X
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا نُبْعَثُ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ اْلآمِنِيْنَ.
LA ILAHA ILLALLOHU MU'HAMMADUROSUULULLOHI SOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM, KALIMATU'HAQQON 'ALAIHA NA'HYA WA 'ALAIHA NAMUUTU WA BIHA NAB'A-TSU INSYA 'ALLOHU MINAL AMINIIN.
TUTUP DOA,, DOANYA BEBAS..